Susah Senang Berbisnis Konten Mobile

Suatu hari… haha, kok kaya mau mendongeng ya … ah tapi biar aja, soalnya topiknya memang dongeng teknologi terkini … ya disambung lagi , serius, suatu hari seorang teman datang ke rumah, seperti biasa mau nebeng chatting karena dirumahnya belum terjangkau internet broadband, sebenarnya hampir tiap hari dia datang , tapi kali ini dia datang dengan “ide” barunya… tepatnya, dia datang dan langsung memberondong saya dengan pertanyaan yang bercampur pernyataan ( atau dibalik… ah sudahlah sama saja ) … Intinya adalah dia bercerita bahwa bisnis konten mobile itu bagus, dengan biaya murah bisa kaya raya cukup dengan nongkrong di rumah melototin log sms ( kalo mau sih, soalnya buat apa juga dipelototin, gak bikin kenyang … ), omzet bisa ratusan juta sebulan, bla , bla , bla…

Saya hanya bisa mendengarkan ocehannya sampai habis, baru bisa berkomentar, atau tepatnya bercerita balik soalnya komentar saya cukup panjang… Saat itu saya bekerja mengelola satu divisi perusahaan trading, dimana divisi yang saya kelola merupakan business unit independen yang kerjaannya ya ini, bisnis konten mobile.

Mungkin memang saya kurang banyak bercerita tentang pekerjaan saya ke teman saya yang satu ini , makanya dia jadi asal nyerocos menawarkan bisnis konten mobile yang notabene adalah yang saya kerjakan sehari-hari. Yang jelas, setelah mendengar cerita saya, baru beliau seakan tersadar dan akhirnya menyatakan untuk tetap fokus ke pekerjaannya , mengelola warnetnya.

Pasalnya, masyarakat awam sering tertipu dengan imaji semu. Secara makro, industri telekomunikasi dan industri turunannya seperti konten ini memang sangat menggiurkan karena seakan bebas resiko dan “maintenance free”. Tetapi secara mikro, sebenarnya ini adalah bisnis yang sangat intensif dalam biaya dan overhead, boleh dikatakan perlu mental yang kuat dan kantong yang dalam untuk bisa benar-benar hidup dan profitable.

Terus terang saya kurang mengikuti perkembangan terkini bisnis ini, karena saya memutuskan mengurangi keterlibatan langsung saya dengan urusan-urusan download game, ringtone dan sebangsanya sejak kurang lebih satu tahun lalu, tapi rasanya kondisinya belum banyak berubah. Saya masih bekerja menjadi programer, dan mengelola perusahaan saya sendiri yang masih mengerjakan hal-hal berbau mobile, tetapi lebih difokuskan untuk menghasilkan produk-produk nyata berupa aplikasi, baik client side ( diinstall di handset ) ataupun online ( web site , WAP site ). Setidaknya saya dan partner bisnis saya mencoba untuk berpikir pragmatis, karena harus diakui, kami tidak memiliki uang banyak, sumberdaya manusia juga tergolong benar-benar mikro ( kurang dari 5 orang ).

Ya , kembali ke topik awal, mengapa saya katakan bisnis ini perlu mental kuat, karena pada dasarnya bisnis ini sama saja dengan bisnis lain. Untuk mendapatkan pendapatan dari traffic messaging, perlu ada biaya promosi yang tak kalah tingginya dan perlu pengelolaan yang baik agar efisiensi terjaga. Problem lain adalah cash flow. Dengan overhead yang cukup tinggi, server dan maintenance server, biaya bandwidth dan kolokasi, sangat sulit untuk mempertahankan cash flow jika penagihan ke operator selular harus melalui hitungan M+3 ( ini juga kalau disayang operator ), alias uang keluar baru tiga bulan setelah invoice dirilis. Secara teoritis, hal ini hanya berpengaruh pada tiga bulan pertama bisnis dimulai, tapi ya teori hanya teori… kenyataannya yang terjadi adalah lingkaran setan. Tiga bulan pertama suatu bisnis adalah saat yang menentukan, dimana promosi harus dilakukan untuk memperkenalkan produk kepada konsumen, sambil terus memantapkan infrastruktur, dan ini bisa diterjemahkan pada satu hal , biaya. titik, tidak bisa ditawar.

Bagaimana detailnya ? promosi perlu biaya , pengadaan server, kolokasi server perlu biaya, gaji karyawan tak lain tak bukan adalah biaya. Jika hal ini tidak diperhatikan, maka produk tidak akan terjual, artinya traffic kurang, dan harapan untuk disayang operator selular ( dan bisa benar-benar dibayar M+3 ) jadi tinggal harapan kosong saja. Terlebih lagi, dalam industri ini produk adalah sesuatu yang virtual, tanpa bentuk fisik, meskipun memiliki bentuk visual ( wallpaper, games ) , aural ( ringtone, full music download ), sehingga tidak memungkinkan untuk menerapkan paradigma produk klasik dalam industri ini… coba bayangkan jika kita harus menghitung biaya penyimpanan satu file mp3 berdasar harga harddisk server dan biaya kolokasi ( dsb, dsb ) , hampir bisa dikatakan sangat kecil, dan minus jika kita masukkan unsur waktu didalamnya, artinya, akan muncul biaya lain, yaitu waktu kita yang terbuang percuma untuk memikirkan hal tersebut. Dari segi perilaku konsumen pun setali tiga uang, sama saja, karena sesuai dengan perkembangan teknologi, attention span ( bahasa Indonesia yang tepat apa ya ? ) konsumen pun sangat pendek, apalagi jika disodorkan “produk” yang sama dari berbagai vendor yang berbeda.

Perilaku pemain industri ini pun tak kalah konyol ( maaf ya , ini pendapat pribadi, tapi rasanya hanya kata ini yang cukup tepat mewakili ) , bagaimana tidak, yang terjadi adalah para pemain industri ini ( ie : content provider ) bertindak bak sekawanan bebek disawah yang beramai-ramai mencari cacing di petak lahan yang sama, padahal sawah sangat luas terbentang di sekitarnya. Memang ada beberapa inovasi, dan pengembangan produk yang cukup bagus, tetapi rata-rata kurang berlanjut, karena memang biasanya sesuatu yang baru perlu traksi beberapa tahun untuk bisa diterima konsumen, dan juga sangat bergantung pada dukungan operator selular dan manufacturer handset selular. Dan ini menciptakan lingkaran setan baru, yaitu perusahaan yang fokus pada R&D seakan tidak pernah untung karena burn rate sangat tinggi, dan ketika saatnya tiba dimana dukungan manufacturer bagus, dan handset yang mendukung juga mulai tersebar , operator seluler seakan mengayunkan pedangnya dengan membuat kebijakan-kebijakan yang kurang menguntungkan content provider… begitu banyak alasan dan kebijakan yang pada akhirnya menjadi satu proses seleksi alam untuk industri konten mobile ini.

Kalau boleh saya bermimpi, saya berharap semua pemain industri ini, mulai dari hulu ke hilir, manufacturer handset, developer aplikasi mobile, content provider ( yang disini sebenarnya lebih pantas disebut content distributor atau reseller ) , dan operator selular bisa bermain cantik, fokus pada perannya masing-masing, tidak saling menggigit dan mencaplok dengan dasar kerakusan. Tapi ya bagaimanapun sepertinya mimpi tinggal mimpi, apalagi ini Indonesia, you know what i mean lah… after all, wishful thinking is all we had and always have for looooong future to come.


About

me.gifHello,
Nice to meet you, finally… Feel free to flip the pages, just scribbles of whatever I see, hear and most importantly many thoughts I need to speak out.
I’m just a simple soul, I don’t talk much, don’t talk loud, mostly I like to subside in the corner watching people with all their weird doings…
Read on, glad to have you here…

Pages

Categories